Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya karena iri dan cemburu. Mereka tidak mau tahu Yusuf itu adik kandung mereka sendiri, tetapi karena hati telah termakan dosa iri dan benci maka Yusuf pun harus disingkirkan, meski cuma dengan 20 keping perak (Kej 37:3-4.12-13a.17b-28).
Dosa iri dan benci juga telah menggores hati para penggarap kebun anggur. Mereka pun bersekongkol untuk mengusir, memukul bahkan membunuh orang suruhan si pemiliknya. Saking iri dan benci anak kandung si pemilik kebun anggur pun juga menjadi korban. Iri dan dan benci itu bagai api dalam sekam. Ia dapat menghanguskan hati siapa saja, ia dapat menyalahkan amarah orang-orang baik sehingga segala rencana jahat bakal tumbuh di hati mereka dan orang-orang inipun melakukan yang jahat (Mat 21:33-43.45-46).
Yesus menyampaikan perumpamaan tentang para penyewa yang jahat untuk menggambarkan sifat dan sikap bangsanya sendiri yang selalu termakan dosa iri dan benci. Yesus sendiri menjadi korban iri dan benci dari kaum Farisi, ahli Taurat, imam-imam, termasuk imam agung. Yesus mereka tangkap, mereka aniaya, bahkan menjatuhkan hukuman mati atas-Nya, meski Ia tak bersalah sedikit pun. Iri dan benci bisa mengesahkan alasan yang dibuat-buat, mencari alasan yang palsu, agar bisa menyingkirkan siapa saja yang menjadi sasarannya. Iri dan benci bisa membuat kawan jadi lawan, teman jadi musuh, dst.
Hati yang termakan oleh dosa iri dan cemburu bisa menyalahkan segala kejahatan lain. Maka, menjaga hati agar tidak dirasuki dosa iri dan cemburu termasuk salah satu kesuksesan dalam "manajemen hati".
Written by RD. Laurensius Sopang

